Wednesday, January 18, 2012

Not a moment to loose

A friend of mine opened his wife's underwear drawer and picked up a silk paper wrapped package:
'This, - he said - isn't any ordinary package.'
He unwrapped the box and stared at both the silk paper and the box.
'She got this the first time we went to New York , 8 or 9 years ago. She has never put it on , was saving it for a special occasion.
Well, I guess this is it.

He got near the bed and placed the gift box next to the other clothing he was taking to the funeral house, his wife had just died.
He turned to me and said:

'Never save something for a special occasion.

Every day in your life is a special occasion'.


I still think those words changed my life.

Now I read more and clean less.

I sit on the settee without worrying about anything and just relax.

I spend more time with my family & friends and less at work.

Money is to be spent not saved.
I understood that life should be a source of experience to be lived up to, not survived through.
I no longer keep anything.
I use crystal glasses every day.
I'll wear new clothes to go to the supermarket, if I feel like it.
I don't save my special perfume for special occasions, I use it whenever I want to.
I go out with my friends whenever I want to rather than thinking I don't have the spare money or time.
The words 'Someday...' and ' One Day....' are fading away from my dictionary. ;
If it's worth seeing, listening or doing, I want to see, listen or do it now...
I don't know what my friend's wife would have done if she knew she wouldn't be there the next morning, this nobody can tell.

I think she might have called her relatives and closest friends.
She might call old friends to make peace over past quarrels.
She might have told everyone how much she loved them.
I'd like to think she would go out for Chinese, her favourite food.

It's these small things that I would regret not doing, if I knew my time had come..


Each day, each hour, each minute, is special.
Live for today, for tomorrow is promised to no-one.

Thursday, December 1, 2011

Awal Muharram hadir tanpa kita sedari, tiada sambutan besar-besaran dengan bunyi laungan selamat tahun baru atau dentuman meriam. Sejak akhir-akhir ini, aku semakin bijak menilai erti diri untuk aku sendiri. Aku belajar memahami agar mendahului diri dengan tidak mementingkan diri juga tidak memberi ruang untuk orang lain mengatur langkah kehidupan aku.
Usia yang semakin meningkat dengan kekuatan diri yang semakin lemah begitu menyedarkan! Aku kini bergantung pada ketekalan akal dan ketajaman minda dalam menyelesai masalah dan menguasai kehidupan bukan lagi pada kekuatan nafsu dan tenaga kudrat yg diberi Ilahi. Selamat Tahun Baru..




Wednesday, October 19, 2011

Aku sudah 39

Betapa mudahnya insan di sekeliling kita mengungkapkan kata-kata ucap selamat sedang kita masih lagi mengulit mimpi indah melata di dunia yang tidak selamanya berada di hujung kaki kita. Aku kini menginjak usia lewat 30 dan memasuki alam 40an. Bermula di titik ini sewajarnya sudah berada di tahap kematangan dan kebijaksanaan akal yang tinggi. Satu usia di mana tahap kecemerlangan diri terukir dan tergilap. Selamat datang ke alam 'TUA'!

Thursday, October 13, 2011

Wadah

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.  Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.  “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”, ujar pak tua.  “Pahit, pahit sekali”, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.  “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,”Bagaimana rasanya ?”  “Segar”, sahut si pemuda.  “Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.  “Tidak,” sahut pemuda itu.  Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:”Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki?  Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”  Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.? Jadi jangan jadikan hatimu menjadi sempit sebesar gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.  Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.  “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”, ujar pak tua.  “Pahit, pahit sekali”, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.  “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,”Bagaimana rasanya ?”  “Segar”, sahut si pemuda.  “Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.  “Tidak,” sahut pemuda itu.  Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:”Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki?  Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”  Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.? Jadi jangan jadikan hatimu menjadi sempit sebesar gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”

Saturday, September 24, 2011

Sandal Kulit Raja

Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka kerana tersepak batu. Ia berfikir, “Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya.”
Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.
Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.” Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut “Sandal“.
Renungan:
Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang aman untuk hidup, kadangkala, kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri,bukan dengan jalan mengubah dunia itu atau bahkan malah menyesali takdir yg telah terjadi dalam kehidupannya.
Kerana kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam fikiran kita, kadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, kita ertikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana, sebab, seringkali dalam pandangan kita, dunia, adalah bayangan diri kita sendiri.
Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih tajam dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit, atau, melapisi hati kita dengan kulit pelapis, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?

Gelap

Jadilah pihak yang selalu optimis dan berusaha untuk melihat kesempatan di setiap kegagalan. Jangan bersikap pesimis yang hanya melihat kegagalan di setiap kesempatan. Orang optimis melihat donat, sedangkan orang pesimis melihat lubangnya saja.
Anda dapat mengembangkan keberhasilan dari setiap kegagalan. Putus asadan kegagalan adalah dua batu loncatan menuju keberhasilan. Tidak ada elemen lain yang begitu berharga bagi Anda jika saja Anda mahu mempelajari dan mengusahakannya.
Pandanglah setiap masalah sebagai kesempatan. Hanya bila cuaca cukup gelaplah Anda melihat bintang.

Kisah Perangkap Tikus

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya, saat membuka sebuah bungkusan. Berbagai kisah bermain dalam fikiran si Tikus. Tapi dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan, “Awas ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati ada perangkap tikus di dalam rumah!”
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruki tanah, mengangkat kepalanya dan berkata. ‘Ya, maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu memang ini masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara peribadi tidak ada masalah. Jadi jangan buat aku sakit kepala lah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing. Katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di dalam rumah!”

‘Wah aku menyesal dengan kabar ini.” Si kambing menghibur dengan penuh simpati. “Tetapi tidak ada sesuatu pun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam doa-doaku!”
Tikus kemudian berbelok menuju si lembu.
‘Oh! Sebuah perangkap tikus?” jadi saya dalam bahaya besar ya?” kata lembu sambil ketawa, berteleran air liur.
Jadi tikus itu kembalilah ke rumah dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh-sungguh sendiri.
Malam tiba, dan terdengar suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menagkap mangsa. Isteri petani berlari melihat apa saja yang terperangkap. Di dalam kegelapan itu dia tak dapat melihat bahawa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.
Si isteri kembali ke rumah dengan tubuh mungil, demam. Dan sudah menjadi kebiasaan, setiap orang sakit demam, ubat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat. Petani itu pun mengasah pisaunya, dan pergi ke kandang, ,mencari ayam untuk bahan supnya.
Tapi, bisa itu sungguh jahat, si isteri tak kunjung sembuh. Banyak tetangga yang datang mengunjung dan tamu pun tumpah ruah ke rumahnya. Iapun harus menyiapkan makanan, dan terpaksa kambing di kandang itu dijadikan gulai. Tapi itu tidak cukup, bisa itu tak dapat disembuhkan juga . Si isteri mati, dan berpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga doa selamat. Tak ada cara lain, lembu di kandang itupun dijadikan jamuan untuk kenduri dan doa selamat,

Moralnya, apabila kamu mendengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu fikir itu masalah itu tidak ada kaitannya dengan kamu, ingatlah bahawa apabila ada “perangkap tikus” di dalam rumah, seluruh “ladang pertanian” ikut menanggung risikonya. Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan daripada kebaikanya.

Melawan Diri Sendiri

Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan atas diri sendiri. Berpacu di jalur keberhasilan diri adalah pertandingan untuk mengalahkan rasa ketakutan, keengganan, keangkuhan, dan semua beban yang menambat diri di langkah permulaan.

Jerih payah untuk mengalahkan orang lain sama sekali tak berguna. Motivasi tak semestinya lahir dari rasa iri, dengki atau dendam. Keberhasilan sejati memberikan kebahagiaan yang sejati, yang tak mungkin diraih lewat niat yang ternoda.

Pelari yang berlari untuk mengalahkan pelari yang lain, akan tertinggal kerana sibuk mengintip laju lawan-lawannya. Pelari yang berlari untuk memecahkan recordnya sendiri tak peduli apakah pelari lain akan menyusulnya atau tidak. Tak peduli dimana dan siapa lawan-lawannya. Ia mencurahkan seluruh perhatian demi perbaikan catatannya sendiri.

Ia bertanding dengan dirinya sendiri, bukan melawan orang lain. Kerana itu, dia tak perlu bermain curang. Keinginan untuk mengalahkan orang lain adalah awal dari kekalahan diri sendiri.

Tuesday, September 13, 2011

Anak lembu?

Tha Sophat, a 20-month-old boy, suckles from a cow in Koak Roka village, Siem Reap province, Cambodia, Friday, Sept. 9, 2011.

Friday, September 9, 2011

Antara RM 50, RM 1 dan RM 0.20

Duit RM1 telah bertemu dengan RM50 dan syiling 20 sen dan bertanya: " Oit,lama tak nampak, mana ko pergi?" RM50 menjawab, " Aku pergi merata tempat. Pergi stadium tgk bola, Naik STAR Cruise, gi KK naik AirAsia, lepak One Utama, konsert AF, M'sian Idol..tempat2 cam tuh lah.

Eh, ko camner lak?" RM1 menjawab perlahan seraya menunduk, "Hmm..biasa lah.. Balik-balik tempat sama.. surau, masjid, surau... " Syiling 20 sen menyampuk.. kira ok lagi tu.. aku ni..balik balik tandas awam.. tandas awam ..tandas awam..

:: di mana nilai kita?::