Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

Thursday, October 13, 2011

Wadah

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.  Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.  “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”, ujar pak tua.  “Pahit, pahit sekali”, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.  “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,”Bagaimana rasanya ?”  “Segar”, sahut si pemuda.  “Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.  “Tidak,” sahut pemuda itu.  Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:”Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki?  Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”  Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.? Jadi jangan jadikan hatimu menjadi sempit sebesar gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.  Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.  “Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya”, ujar pak tua.  “Pahit, pahit sekali”, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping. Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.  “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,”Bagaimana rasanya ?”  “Segar”, sahut si pemuda.  “Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.  “Tidak,” sahut pemuda itu.  Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:”Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki?  Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan; lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”  Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.? Jadi jangan jadikan hatimu menjadi sempit sebesar gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”

Saturday, January 1, 2011

Dalam Diam Ubi Berisi

Kedatangan aku di daerah yang sepi pada 11 Disember 2008, rupa-rupanya adalah kedatangan yang penuh erti. Pemergiaan aku pula ke daerah baru tanggal 31 Disember 2010 bakal menduga nilai diri dan kematangan aku.

Dulu kedatangan aku ke daerah sepi ini ditemani dengan kata-kata perangsang yang membangkitkan semangat juang. Kini aku melangkah pergi setelah perjuangan aku sampai ke penghujungnya. Kedatangan yang begitu memberangsangkan dan pemergian yang penuh dengan kesyahduan.

Kaki tetap melangkah dan kehidupan tetap diteruskan. Hati yang walang bukan penyekat untuk terus berbakti dan menabur budi. Dalam aku diam, aku belajar erti kemanusiaan dan kehidupan, semakin memahami nilai kasih sayang dan kemanusiaan, semakin menerima erti kehilangan dan permulaan sesuatu yang tidak pasti dihadapan. Jelas sekali aku belajar mengenali siapa aku dan menilai diriku dari kacamataku sendiri.

Kehidupan yang ditempuhi menjadikan aku lebih diam dan memerhati untuk memahami perbezaan dan persamaan antara manusia. Sifat dan sikap yang memberi nilai yang berbeza pada erti seorang insan. Ada yang kita sayang, kasih, hormat dan ada pula yang diketepikan dan dibenci. Namun aku belajar memahami bahawa perbezaan bukan pengukur kesalahan tetapi keunikan dan itulah nilai yang kita berikan pada seseorang. Manakala persamaan yang dilihat bukan pengukur kebenaran yang dibawa tetapi kelebihan yang mengikat kita untuk terus mengenali siapa dia di sebalik diri yang dipamerkan.

Segalanya itu aku peroleh di daerah yang sepi ini, bakal ku bawa ke daerah baru yang pasti mendamaikan hatiku.

Tuesday, September 28, 2010

Sabar

Aiyoooohhh...sejak minggu lepas, kesabaran aku memang diuji sehingga ke tahan gaban...bermula dengan aplikasi talian untuk pengurusan data sehinggalah ke pengurusan hal peribadi. Memang sesuai dengan major course aku di universiti..hehehehe..management!

Pagi ni, buah hati aku buat hal...aduhai.. pepagi lagi Cik Mat Asus mengamuk..sebenarnya sejak semalam lagi aku cuba memujuk agar dia balik asal tapi takmau jugak..aku tension so dia pun tension jugak kut...akhirnya terpaksalah aku bubuh batu nesan untuk perisian2 sebelum ini dan menapak balik laaa...adussshhh...maka tersadailah Cik Mat Asus aku di BHL sehingga petang ni..

Moral yang aku pelajari ialah kalau aku marah, baik aku diam dan jangan tunjuk kan apa-apa..muka sadin je. Sebab bila aku marah, akan terkesan lah sekeliling aku..aduhai.....akibatnya Cik Mat Asus aku pun udah tension dan merajuk...huhhuhuu!